Senin, 01 Agustus 2011

Senandung Cinta untuk Ibu

tak banyak kata yang dapat terucap
tak banyak laku yang dapat terungkap
kau tau mam , aku mencintaimu layaknya laut
tak surut , walau panas berganti hujan

tak ada yang bisa ku beri
bukan karna ku tak tau diri
karena memang tak kan ada balasan yang layak

kau tau mam , aku menyayangimu layaknya mentari menyinari bumi
tak lepas walau malam menjungkalkan siang
maaf ku tak bisa jadi putri sempurna layaknya engkau yang sempurna sebagai ibu

terima kasih Ibu , tempat semua sumber inspirasi , semangat , dan pelarian diri untuk cinta dan kasih sayangmu yang tak lekang oleh masa
sekarang ku sadar , betapa beruntungnya ayah , memiliki engkau
ya Allah, beri aku keberuntungan selayaknya ayah

kau Ibu terbaik
thanks for the Unlimited Love

"dikutip dari buku Kepada Cinta"

Kepada Kamu dengan Penuh Kebencian

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.

—

*Tulisan ini terdapat dalam buku Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009), surat cinta yg ditulis oleh Raditya Dika*

Dear Hunny, Aku Mencintaimu Dalam Diam

Dear Hunny,
Hari ini cerah meskipun matahari tersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan yang memenuhi hampir seluruh langit. Angin mengantarkan rasa hangat dan menyentuh kulit dengan lembut. Ah, terlalu naïf jika aku berharap angin hangat yang sama bertiup juga di tempatmu berpijak sekarng. Terlalu jauh perjalanan yang harus ditempuhnya. Dan, di bumi yang semakin gersang, angin makin sulit berbisik. Dahulu ia bisa menyampaikan salam sepasang kekasih yang terpisah jarak lewat bisikannya dengan dedaunan. Namun kini ia hanya bisa berdansa dengan debu dan udara panas.
Biarlah Hunny, biarlah angin yang menyapaku saat ini tak mampu pergi ke tempatmu. Biarlah ia menolak membawakan pesan. Cukuplah bagiku alam dengan menyediakan segala yang kita butuhkan untuk tetap hidup dan berharap. Matahari pun masih melaksanakan tugasnya hingga cahayanya membantu dedaunan tetap hidup, menumbuhkan pohon-pohon yang tersisa di tanah subur. Darinya pula kita dapatkan kertas untuk mencurahkan kata-kata yang kutulis saat ini (kuharap mereka menanam pohon lain untuk menggantikannya).

Hunny,
Apakah kamu bahagia hari ini? Dengan kecukupan udara untuk membuatmu bernapas, dengan kesempurnaan fisik yang kamu miliki, dengan kehadiran orang-orang yang menyayangimu tanpa pamrih, dengan lindungan Tuhan yang menjaga langkahmu setiap waktu. Apakah kamu bahagia? Aku tahu kamu bahagia karena kebahagiaan sebenarnya begitu sederhana. Tetapi, apakah kamu bahagia dalam kesendirianmu?
Setiap aku memandang senyum di fotomu, aku melihat kebebasan terpancar di binar matamu. Bebas, tak terikat, kamu menjelajah sesuka hati. Satu persatu teman dan sahabat menambatkan perahu mereka dan berhenti bertualang, sementara kamu masih bermain dengan tanah, ombak, dan matahari. Tak terpikirkah olehmu, seseorang tengah merindumu, menunggumu untuk berlabuh? Tak adakah sedikitpun keinginan untuk mengarungi semua petualangan itu dengan seseorang di sampingmu?

Hunny, sedang dimanakah kamu saat ini?
Apakah kamu tenggelam di balik kaca gedung tinggi di belantara ibukota? Apakah besi dan baja yang terangkai dalam mesin-mesin canggih tengah menjadi pusat perhatianmu? Ataukah pasir pantai yang lembut tengah menggoda ujung-ujung kakimu yang telanjang? Ataukah rimbun dedaunan dan binatang hutan sedang menyanyikan lagu-lagu peri di sekitarmu?
Seringkali aku memejamkan mata, berusaha menjangkaumu dalam pikiranku. Sungguh, aku ingin percaya bahwa pikiran adalah sebuah gelombang magis yang bergerak dalam frekuensi tertentu. Dan, berharap kamu memiliki frekuensi yang sama hingga gelombang pikiran kita bertemu di semesta. Tak peduli belahan bumi manapun kamu berada, aku bisa memanggilmu.
Terkadang, aku begitu ingin menghubungimu. Menekan angka demi angka di keypad, lalu menekan tombol “Call”. Atau menekan huruf demi huruf di keyboard dan meng-klik button “Send”. Tapi, rasa malu seorang perempuan selalu menghalangiku sedemikian rupa sehingga semua berujung di perintah “Delete”. Nomorku tak pernah muncul di layar handphone-mu. Peanku tak pernah ada di inbox e-mail mu. Dan bahkan, mungkin namaku pun tak pernah ada di hatimu…

Ah, Hunny…
Sesekali aku menyesali kenapa itik buruk rupa sepertiku menginginkan elang yang terbang anggun di angkasa sepertimu untuk berada di sisiku? Meski kamu tidak pernah merendahkanku, tetap saja segala keterbatasanku menghalangiku untuk menggapaimu. Sementara itu, kamu bisa memeroleh pasangan yang hampir sempurna untuk melengkapi setengah bagian dien-mu.
Kisahku memang hanya mengulang jutaan kisah cinta yang terjadi di dunia yang telah begitu renta ini. Aku menyadari perasaanku justru setelah kita berpisah. Dongeng klasik. Namun, tetap saja membingungkan setiap tokoh cerita yang mengalaminya. Oh, alangkah sederhanyanya hidup, hanya mengulang sejarah dari masa ke masa, tetapi alangkah rumitnya manusia, hanya untuk mengekspresikan kasih sayang saja harus melalui banyak tahap dalam pemikiran. Terkadang, mereka menyiksa diri dengan diam dan menyerah, bertanya-tanya dimanakah keberanian akan ditemukan?
Sering juga aku menyangsikan bahwa gelombang perasaan yang menderaku ini adalah cinta. Benarkah aku mencintaimu? Lalu dimana rasa ini bersembunyi pada waktu pertama kita bertemu? Tak ada rinduingin bertemu, tak ada debaran keras jantung saat melihatmu tersenyum, tak kutemukan namamu dimana-mana. Bahkan, kamu tak hadir dalam mimpi-mimpiku saat itu. Bertahun-tahun setelah kita berpisah, aku terbangun di suatu pagi dan diselimuti perasaan aneh, bahwa aku ingin memilikimu. Dengan alasan yan tidak kumengerti.
Semua kenangan bersamamu akhirnya menjadi amat berharga. Maka aku kembali mencari jejakmu yang hampir hilang dilapis debu waktu. Setitik kecil tulisan, sepetak gambar foto, sepotong demi sepotong ingatan tentang kata-kata yang pernah kamu ucapkan, senyum yang pernah kamu berikan, bahkan ejekan dan godaanmu kukumpulkan kembali. Semakin jelas kenangan itu terbentuk, semakin aku sadar bahwa di balik segala kehebatanmu, kamu begitu apa adanya. Tak ada kata-kata berlebihan, tak ada ekspresi palsu. Perhatianmu kepadaku pun bukanlah sikap yang dibuat-buat. Mungkin, semua itu tersimpan dan mengendap dalam pikiranku begitu lama hingga aku tidak menyadarinya. Dan ketika memori itu tiba-tiba menyeruak ke permukaan, aku seolah-olah terbangun dan tersentak: aku membutuhkan seseorang seperti kamu dalam hidupku.

Hunny,
Aku bahagia dengan semua yang kumiliki hingga saat ini. Aku bahagia menjalani pilihan demi pilihan yang kubuat selama rentang waktu yang terbentang sepanjang umurku. Aku tak meminta waktu diputar ulang agar bisa bersamamu lebih lama. Jikapun aku bisa aku kembali ke masa lalu, tetap aku tidak akan mampu menyatakan perasaanku.
Aku lebih suka waktu mengalir apa adanya. Terkadang ia seperti berlari begitu cepat hingga tak terasa usia semakin merangkak tua. Namun saat memikirkanmu waktu seolah-olah lambat dan enggan beranjak hingga sepi terasa mendera lebih lama. Tapi, di satu titik waktu, takdir akan berbicara tentang kita, memberi tahu keputusan yang telahdibuat-NYA jauh sebelum kita dilahirkan. Apakah aku terbuat dari tulang rusukmu? Jika tidak, apakah perjumpaan kita akan membawa berkah yang lebih bermakna?



Hunny,
Kesabaran adalah jawaban terbaik yang bisa dimiliki setiap makhluk bernama manusia. Di suatu tempat dalam hati, aku masih meyakini dunia masih cukup sempit untuk mempertemukan kita kembali. Entah apa yang akan terjadi saat itu. Aku mungkin serasa bermimpi dan tak ingin bangun. Aku mungkin tak sanggup menatap matamu dan menahan segala rasa yang tersimpan begitu lama. Dan, kamu mungkin akan memandangku dengan senyum jenaka seperti dahulu, seolah-olah jarak dan waktu tak pernah memisahkan pertemanan yang pernah ada.

Jika Tuhan mengizinkan, apapun bisa terjadi bukan?

Hunny,
Surat ini mungkin takkan pernah sampai kepadamu. Kurasa nasibnya hanya akan berakhir di tempat sampah. Atau hanya tersembunyi di sebuah folder yang tak pernah aku buka lagi. Atau, haruskah kulempar ia dalam sebuah botol dari tepi Parangtritis? Berharap laut akan mengantarkannya padamu...

Entahlah... entahlah....

Sampai ataupun tidak, aku hanya ingin kamu tahu. Dalam diamku, aku berdoa kuasa-NYA akan membuatmu datang mengetuk pintuku dan mengatakan kamu pun membutuhkanku dalam hidupmu....

"dikutip dari buku Kepada Cinta"

Kamis, 29 April 2010

Just For You (lanjutan)

"Beneran?" tegasnya.
Marshya mengangguk pelan dengan wajah memelas.
Angel terdiam sejenak, "Baiklah... aku akan membantumu, kamu mau melakukan diet penurunan berat badan itu karena Daffa kan?" tuturnya dengan nada agak menggoda, kebetulan Angel sudah mengetahui tentang Daffa.
Marshya terhenyak kaget, wajahnya merah merona menahan malu, perlahan ia mengangguk dengan senyum manis.
"Sudah ku duga, hahaha.. makanya jangan bilang gak butuh badan langsing." ketawa Angel begitu nyaring namun terasa menusuk hati.
Mendengar Angel mengejek, suasana hati Marshya berubah drastis, hati yang berbunga-bunga menjadi hati yang diselubungi kekesalan, "Menyebalkan!!" katanya.
"Hanya untuk Daffa, aku menjilat ludah sendiri, rela diet karena ingin punya badan yang langsing. Padahal dari dua tahun lalu aku sudah gak peduli. Tapi gimana lagi, kalau menunjukkan body segede gini, Daffa bisa balik lagi ke Bandung, gak mau mudik karena mual lihat kondisi badanku, lari tunggang langgang gak balik lagi." pikiran Marshya terus kacau dalam jeritan hatinya.
***
Beberapa hari ini, Marshya mengawali aktivitas yang terbilang sadis. Demi mendapatkan hasil yang baik, setiap pagi jogging sampai 1 km dimulai dari rumah sampai perbatasan wilayah daerah sebelah. Saat siang, main karet spring minimal 100 putaran dan terkadang bermain holla hop, jika sempat Marshya dan Angel fitness bersama. Tidak lupa setiap sore dan malam sit up sebanyak 150 kali.
Usaha Marshya yang keras itu akan sia-sia jika porsi makannya tetap sama, sekali makan 2 porsi dan setiap hari menghabiskan 20 bungkus cemilan.
Tapi kali ini porsi makan Marshya berubah, sekali makan setengah porsi, nasi setengah piring dan cuma dengan sayur mayur tanpa makanan yang mengandung minyak dan berlemak, dari pagi sampai malam Marshya dipaksa dan diusahakan tidak ngemil seperti biasanya, walau berat tapi Marshya rela juga melakukannya. Disamping itu Marshya minum jus buah-buahan 3 kali sehari secara rutin untuk 6 hari ini.
Dan akhirnya, usaha diet yang selama ini dilakukannya berakhir juga, 6 hari berlalu begitu cepat.
"Waaahh, turun 6 kg." puji Angel merasa bangga karena dialah yang menjadi instruktur misi diet Marshya selama 6 hari itu.
Marshya saking senangnya, ia menangis terharu, "Makasih kak!" untuk kali ini Marshya berkata pelan dan lembut kepada Angel, mendegar itu Angel pun tersenyum senang.
"Selamat ya, Marshya!! Usaha keras kamu selama ini akhirnya menghasilkan yang terbaik." ucap Angel dengan tatapan haru serta memberi semangat yang besar kepada Marshya untuk besok, di saat Daffa akan datang kerumah mereka.
***
Pintu rumah terbuka, hati Marshya pun mulai berdegup kencang. Pagi hari ini Daffa baru datang, baru saja melewati pintu rumah Marshya.
Sesosok cowok yang putih bersih, serasa memantulkan cahaya bila melihatnya dan jika terus melihatnya akan terasa silau. Marshya menatap terus Daffa yang keren itu pun serasa mau memeluknya dengan erat. Ia tengah berjalan menghampiri Marshya yang berdiri diruang tamu, perlahan wajahnya yang agak samar itu semakin lama semakin jelas wajah cakepny.
"Dag... Dig... Dug..." jantung Marshya berdetak kencang, penampilan Marshya yang berbeda pun terlihat menyolok lumayan juga dan semakin manis.
Daffa tersenyum tipis sambil berhenti di hadapan Marshya yang mematung karena saking nervous-nya. Perlahan Daffa mendekati telinga Marshya, dengan lembut ia berkata, "Sekarang kamu lebih sexy." dengan senyuman tipis pula.
Mendengar itu, mata Marshya semakin berbinar, wajahnya merah padam dan serasa panas.
"Thanks." pelan Marshya, dengan sekuat tenaga Marshya berkata demikian sambil tersenyum manis.
Kata sexy emang pantas untuk Marshya, tapi baginya usaha yang belum diketahui Daffa itu hanya cukup diartikan dalam bahasa hati, usaha selama ini yang ia lakukan dengan amat keras itu. Just for you!!

TAMAT

Just For You

Seorang cewek yang beranjak dewasa dan baru berumur 17 tahun, mementingkan penampilan body-nya itu memang udah biasa. Termasuk juga milih warna kulit sawo matang sampe ngerasa perlu diputihin. Dijaman modern begini, dari rambut, mau warna apa aja bisa suka-suka, begitu juga masalah 'BODY'.
Tuntutan body kayak model inilah yang bikin cewek remaja kena dilema. Mereka berusaha diet dan segala cara. "Pokoknya aku ingin langsing" pikiran inilah bikin buta. Mereka jadi malas makan, ngemil, apalagi makanan yang berlemak seperti gorengan. Tapi bagiku makanan itulah yang bikin aku ngiler setiap melihat makanan yang beradonan terigu dan sayuran itu.
Cewek bernama Marshya lah yang memiliki prinsip demikian, yang penting perutnya kenyang, itu yang membuat dirinya tenang. Cuek mengontrol makan dam yang penting kenyang membuat dirinya menerima akibat dari prinsip itu sendiri.
Nyatalah keadaan body-nya yang mengembang lebih besar dari teman-temannya yang lain, perut berlipat dua membuat Marshya selalu lamban dalam melakukan kegiatan. Tapi baginya itu gak masalah, percaya diri yang besar ia dipertahankan selalu, apalagi dicibir oleh orang lain, cuek saja! Anggap saja ayang lagi berkokok, lupakan!!
"Marshya...!!!"
Setiap hari telinga Marshya selalu menangkap sinyal orang yang sedang berteriak seperti tadi. "Angel" si super duper pelit, over control terhadap body-nya sendiri, itu membuat Marshya risih. Prinsip Angel berbeda banget dengan prinsip adiknya ini. Tapi ada kelebihan juga yang dimiliki Angel, dan tentunya gak dimiliki Marshya. Satu kata yang cukup indah didengar bagi para cewek yaitu 'langsing'.
"Hm..." gumam Marshya yang duduk di sofa sambil menonton TV dengan santai. Kemalasan terpancar dari wajahnya.
"MARSHYA!!!" bentak Angel yang sudah berdiri dihadapan Marshya, cemilan yang sedang dimakan Marshya membuat mata Angel semakin terbelalak.
"Ce..cemilan itu kan...?!"
"Apa?" tanya Marshya heran.
"Itu punyaku, cemilan ini punyaku!"
Angel menyambar cemilan dari Marshya, Marshya merengut kesal "itu kan sudah jadi milikku!"
"Dasar gembul... udah cukup memakan puluhan cemilan yang ada di lemari makan, gak sadar badan udah membengkak ya...?!" sahut Angel begitu kesal.
Marshya tidak mau kalah, "Terserah aku dong, Miss Slim!"
Angel mengernyitkan dahinya, sorotan mata yang kesal menatap Marshya, sambil melengos pergi dari pandangan Marshya. Angel menggerutu kecut, "Kamu pasti gak akan tahan dengan kondisi badan yang gendut kayak gitu!"
"Gak bakalan!" sewot Marshya begitu angkuh.
***
"Kring... Kring... Kring"
Marshya berjalan menghampiri telpon rumah yang daritadi terus berdering.
"Hallo?!"
Marshya melotot kaget, namun perlahan matanya kembali berbinar senang.
"Daffa!!" sahutnya lagi terdengar begitu gembira.
Apa yang mereka bicarakan antara Marshya dan Daffa? Sahabat kecil Marshya ini membuat jantungnya berdegup kencang. Yuph... Daffa emang cowok yang Marshya sukah sejak dulu.
"Oo...h, baiklah... jadi, kamu mau mudik ke sini? Baiklah, nanti aku beritahu Mama." Suara Marshya terdengar berbeda, mungkin ia permanis dengan alasan suka itu.
"Tentu saja senang." Marshnya mengangguk sendiri, seperti ada seseorang yang berdiri di hadapannya, tersenyum sendiri seperti orang yang sedang rindu. Tak lama terdengar lagi, "Ooh, satu minggu lagi ya?" Marshya mengangguk kecil, perlahan alis matanya mulai mengerut tinggi, kecemasan tengah dirasakannya, keringat dingin bercucuran di dahinya, "Iya... sampai nanti, bye..." pembicaraan diakhiri, Marshya menutup telepon.
Senang kan kalau kita mau bertemu dengan cowok yang kita sukai? Tapi Marshya, dia malah muram dan begitu cemas karena Daffa mau mudik kerumahnya. Liburan semester ini, Daffa akan cukup lama dirumah Marshya.
Pikirannya kacau, Marshya cemas, selama 2 tahun ini Daffa belum bertemu langsung dengan Marshya. Terakhir waktu SMP, badan Marshya masih bisa dibilang langsing. Tapi kali ini badan Marshya sudah membengkak, bulan ini pun berat badannya bertambah 5 kg. Andai bisa turun 10 kg, badan Marshnya pasti terlihat langsing. Walaupun langsing tidak terjadi di body Marshya, paling tidak pinggul Marshya akan membentuk dan terlihat 'sexy'.
***
"Aku mohon kak... kakak manis deh."
Rayu Marshya kepada kakaknya Angel yang duduk bersila dilantai, posisi tegak dan terlihat rilek serta mata yang terpejam seperti tertidur, menguatkan pikiran kalau Angel sedang yoga.
Angel tidak merespon rayuan Marshya, saat ini Marshya tengah jongkok menghadap kakaknya yang berbadan langsing itu dan umurnya yang lebih tua dua tahun darinya.
"Ayolah kak, bantu aku!"
Mata Angel terbuka, "Bantu apa?" mungkin karena risih Marshya terus merengek, akhirnya Angel mengalah.
Wajah Marshya begitu bahagia mendengar kata-kata Angel yang terasa plong di hati.
"Aku mohon bantu aku, selama satu minggu ini aku mau melakukan diet."
Angel kaget, matanya melotot seakan mau loncat, posisi duduknya pun tidak rilek lagi, berubah menjadi tegang.
Bersambung...

Jumat, 11 Desember 2009

Warna Persahabatan

Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar Semua menganggap dirinyalah yang terbaik yang paling penting yang paling bermanfaat yang paling disukai HIJAU berkata:"Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan. Tanpa aku, semua hewan akan mati. Lihatlah ke pedesaan, aku adalah warna mayoritas..."

BIRU menginterupsi: "Kamu hanya berpikir tentang bumi, pertimbangkanlah langit dan samudra luas. Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan awan mengambil kekuatan dari kedalaman lautan. Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan. Tanpa kedamaian, kamu semua tidak akan menjadi apa-apa"

KUNING cekikikan: "Kalian semua serius amat sih? Aku membawa tawa, kesenangan dan kehangatan bagi dunia. Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna kuning. Setiap kali kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum. Tanpa aku, dunia tidak ada kesenangan."

ORANYE menyusul dengan meniupkan trompetnya: "Aku adalah warna kesehatan dan kekuatan. Aku jarang, tetapi aku berharga karena aku mengisi kebutuhan kehidupan manusia. Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah wortel, labu, jeruk, mangga dan pepaya. Aku tidak ada dimana-mana setiap saat, tetapi aku mengisi lazuardi saat fajar atau saat matahari terbenam. Keindahankubegitu menakjubkan hingga tak seorangpun dari kalian akan terbetik di pikiran orang."

MERAH tidak bisa diam lebih lama dan berteriak: "Aku adalah Pemimpin kalian. Aku adalah darah - darah kehidupan! Aku adalah warna bahaya dan keberanian. Aku berani untuk bertempur demi suatu kausa. Aku membawa api ke dalam darah. Tanpa aku, bumi akan kosong laksana bulan. Aku adalah warna hasrat dan cinta, mawar merah, poinsentia dan bunga poppy."

UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tingginya ia mampu: Ia memang tinggi dan berbicara dengan keangkuhan. "Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan. Raja, Pemimpin dan para Uskup memilih aku sebagai pertanda otoritas dan kebijaksanaan. Tidak seorangpun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku." Akhirnya

NILA berbicara lebih pelan dari yang lainnya, namun dengan kekuatan niat yang sama: "Pikirkanlah tentang aku. Aku warna diam. Kalian jarang memperhatikan daku, namun tanpaku kalian semua menjadi dangkal. Aku merepresentasikan pemikiran dan refleksi, matahari terbenam dan kedalaman laut. Kalian membutuhkan aku untuk keseimbangan dan kontras, untuk doa dan ketentraman batin."

Jadi, semua warna terus menyombongkan diri, masing-masing yakin akan superioritas dirinya.
Perdebatan mereka menjadi semakin keras. Tiba-tiba, sinar halilitar melintas membutakan.
Guruh menggelegar. Hujan mulai turun tanpa ampun. Warna-warna bersedeku bersama ketakutan,
berdekatan satu sama lain mencari ketenangan.

Di tengah suara gemuruh, hujan berbicara:
"WARNA-WARNA TOLOL, kalian bertengkar satu sama lain, masing-masing ingin mendominasi yang lain. Tidakkah kalian tahu bahwa kalian masing-masing diciptakan untuk tujuan khusus, unik dan berbeda? Berpegangan tanganlah dan mendekatlah kepadaku!" Menuruti perintah, warna-warna berpegangan tangan mendekati hujan, yang kemudian berkata:

"Mulai sekarang, setiap kali hujan mengguyur, masing-masing dari kalian akan membusurkan diri sepanjang langit bagai busur warna sebagai pengingat bahwa kalian semua dapat hidup bersama dalam kedamaian.

Pelangi adalah pertanda Harapan hari esok."
Jadi, setiap kali HUJAN deras menotok membasahi dunia,
dan saat Pelangi memunculkan diri di angkasa marilah kita
MENGINGAT untuk selalu MENGHARGAI satu sama lain.
MASING-MASING KITA MEMPUNYAI SESUATU YANG UNIK KITA SEMUA DIBERIKAN KELEBIHAN UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN DI DUNIA DAN SAAT KITA MENYADARI PEMBERIAN ITU, LEWAT KEKUATAN VISI KITA,
KITA MEMPEROLEH KEMAMPUAN UNTUK MEMBENTUK MASA DEPAN ....
Persahabatan itu bagaikan pelangi:
Merah bagaikan buah apel, terasa manis di dalamnya.
Jingga bagaikan kobaran api yang tak akan pernah padam.
Kuning bagaikan mentari yang menyinari hari-hari kita.
Hijau bagaikan tanaman yang tumbuh subur.
Biru bagaikan air jernih alami.
Ungu bagaikan kuntum bunga yang merekah.
Nila-lembayung bagaikan mimpi-mimpi yang mengisi kalbu

Persahabatan

Persahabatan itu seperti tangan dengan mata..




Saat tangan terluka, mata menangis...

Saat mata menangis, tangan menghapusnya..



Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya.



Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.



Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan,didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.



Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.



Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.



Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain,tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.



Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.



Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.



Beberapa hal seringkali menjadi penghancur persahabatan antara lain:

1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit)

2. Ketidakterbukaan

3. Kehilangan kepercayaan

4. Perubahan perasaan antar lawan jenis

5. Ketidak setiaan..



Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya.



Renungkan:

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.



"Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita.." - Anonim -



Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.